Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru adalah taman nasional di Jawa Timur, Indonesia; yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Taman yang bentangan barat-timurnya sekitar 20-30 kilometer dan utara-selatannya sekitar 40 km ini ditetapkan sejak tahun 1982 dengan luas wilayahnya sekitar 50.276,3 ha. Di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir yang luasnya ±6290 ha. Batas kaldera lautan pasir itu berupa dinding terjal, yang ketinggiannya antara 200-700 meter.
Pahami
[sunting]Taman nasional ini dinamai dengan nama dua gunung besarnya, Gunung Semeru (tertinggi di Jawa dengan ketinggian 3,676 m), Gunung Bromo (paling populer) dan orang Tengger yang tinggal di wilayah tersebut.
Suku Tengger
[sunting]|
Roro Anteng dan Joko Seger Cerita rakyat Jawa mengatakan bahwa pada abad ke-15, Putri Roro Anteng (putri Raja Majapahit Brawijaya) dan suaminya (Joko Seger), melarikan diri dari pasukan Islam yang merajalela dan akhirnya tiba dengan selamat di Gunung Bromo. Di sini mereka membangun kerajaan baru, dan menamainya Teng-ger, dengan menggabungkan penggalan dari nama keluarga mereka masing-masing. Kerajaan Tengger pun makmur dan agama mereka berkembang pesat, tetapi pasangan pemimpin kerajaan tersebut tidak dapat menghasilkan pewaris takhta. Dalam keputusasaan, mereka berdoa dan bermeditasi di Bromo selama berhari-hari sebelum kawah terbuka dan dewa yang maha kuasa (Hyang Widi Wasa) mengumumkan bahwa mereka akan diberi anak, dengan syarat anak terakhir harus dikorbankan kembali ke gunung. Mereka memiliki 25 anak, tetapi bertahun-tahun kemudian Roro dan Joko melanggar syarat tersebut dan menolak untuk mengorbankan anak terakhir mereka, Pangeran Kesuma. Akibatnya, letusan Bromo yang pun dahsyat terjadi dan menelan Kesuma ke dalam kawah. Untuk menenangkan Dewa yang agung, saudara-saudari Kesuma mengadakan upacara persembahan di kawah tersebut setiap tahun, dan hal ini masih berlangsung hingga kini — Yadnya Kasada yang terkenal, yang diadakan pada bulan purnama bulan ke-12 (Kasada) menurut kalender Tengger. |
- Suku Tengger adalah penduduk asli Bromo yang masih memegang teguh tradisi dan agama Hindu, sangat berbeda dengan mayoritas penduduk Indonesia.
- Upacara Yadnya Kasada: Setiap tahun, Suku Tengger menyelenggarakan upacara keagamaan ini dengan melempar sesaji ke dalam kawah Gunung Bromo sebagai bentuk penghormatan kepada dewa-dewa.
- Nama Berasal dari Dewa Brahma: Nama "Bromo" berasal dari penyebutan lokal nama Brahma, dewa pencipta dalam agama Hindu, menunjukkan kuatnya pengaruh Hindu di wilayah tersebut.
Lihat
[sunting]- Kaldera Tengger dan Anak Gunung: Gunung Bromo berada di tengah kaldera Gunung Tengger yang luas, dikelilingi oleh empat anak gunung berapi baru.
- Lautan Pasir: Hamparan pasir vulkanik luas yang dinamakan Lautan Pasir Tengger ini memberikan pemandangan unik yang sering disebut sebagai "pasir berbisik".
- Kawah Aktif dan Asap Belerang: Kawah Bromo masih aktif, terus mengeluarkan asap belerang putih yang bisa dilihat dari ketinggian dan memberikan sensasi "mangkuk bumi" yang menganga.
- Fenomena Embun Beku: Terutama saat musim kemarau, suhu udara sangat dingin menyebabkan embun membeku menjadi es, memberikan pemandangan es yang menakjubkan.
- Bukit Teletubbies: Padang savana hijau yang luas dan indah di sekitar Bromo, disebut Bukit Teletubbies karena bentuknya yang mirip dengan lokasi syuting serial anak-anak tersebut.
Tetap sehat
[sunting]Suhu di Gunung Bromo sejuk di siang hari (meskipun sengatan matahari masih tergolong berbahaya), tetapi sangat dingin di malam hari, karena suhu bisa turun ke nol di musim panas dan jarang jauh di atas 5 °C di musim dingin. Beberapa tempat menginap yang lebih murah mungkin tidak menyediakan selimut atau alat penghangat yang memadai, jadi bersiaplah. Jika perlu, Anda bisa menyewa jaket dan topi di Cemoro Lawang dan di sudut pandang Penanjakan sekitar Rp 10.000.
Ada kasus malaria setiap tahun di kaki bukit taman, sehingga pengunjung yang berencana tinggal lama atau berkemah di daerah ini harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan. Ini bukanlah masalah bagi mereka yang ingin mengunjungi Gunung Bromo atau dataran tinggi saja.
Tetap aman
[sunting]"Jalan" di puncak tangga menuju Gunung Bromo hanya sekitar 1 meter lebar dan di tempat-tempat yang menjorok ke kawah cukup besar. Berhati-hatilah, pastikan Anda memiliki senter untuk pendakian sebelum fajar dan sehat secara mental.
Bromo adalah gunung berapi aktif, dan Semeru adalah gunung berapi yang sangat aktif. Pada Juni 2004, dua wisatawan terbunuh di Bromo oleh batu-batu yang terlepas dari ledakan yang tiba-tiba. Laporan Kegiatan Vulkanik dari Smithsonian Institute mengawasi keduanya, dan layak untuk diperiksa.
Gunung ini menjadi sangat dingin di puncak tinggi di malam hari, mungkin lebih dingin daripada dimana pun di Indonesia bahkan di dataran tinggi gletser Papua. Bersiaplah untuk suhu malam hari yang tidak jauh di atas nol derajat celcius.